[cerpen] Mariko-sama’s Valentine Chocolate #YUI17Melodies

 

Penulis: Hazuno Cherry

Tema: CHE.R.RY – YUI

Keyword: sakura, jatuh cinta, pesan, impian, meteor

Dunia ini seperti warna merah muda, itu yang terpikir di benakku setiap tanggal 14 Februari datang. Bayangkan saja seratus pasangan lebih memadati taman dan bercumbu mesra di tempat-tempat yang terlindungi semak-semak. Walaupun aku masih kecil—menurut mereka aku terlihat seperti anak SMP—sebenarnya aku sudah 14 tahun (karena itu aku terlihat seperti anak SMP) dan yang terpenting aku sudah bekerja di kepolisian pusat di bagian inteligen bersama dengan pegawai yang kupilih sendiri. Meski aku masih belia—seperti kalian lihat—aku seharusnya sudah mengalami percintaan yang mendalam seperti mereka karena aku sudah berpengalaman (dari buku dan film-film) tentang percintaan seperti itu. Ah—rasanya aku seperti mau meleleh saat memikirkannya.

Beberapa bulan lalu, aku dan orang-orangku terjebak permainan konyol ayahku di sebuah gudang yang luas. Pada waktu itu, terungkap sudah hubunganku dengan sekretarisku, Sanada. Eit, jangan berpikir kalau kami pacaran, ya (itu tidak akan mungkin). Kami adalah kakak beradik kandung yang masuk ke kepolisian karena keturunan (semua anggota keluargaku adalah polisi termasuk ibuku atau nenekku atau bahkan buyut dan buyutnya buyutku). Karena hal itu, ayah hanya mengijinkanku menikah dengan seorang polisi suatu hari nanti. Tadinya aku tak begitu memusingkan hal itu, sampai aku bertemu dengan sosok pangeran yang langsung kurekrut karena ketampanannya—walaupun tampan ternyata dia juga sangat berguna sebagai seorang polisi. Namanya Ichinose Rei. Meski tugas awalnya hanya mengasuhku karena atasan belum begitu percaya pada kinerjaku di lapangan, lambat laun aku mulai jatuh cinta sungguhan padanya, sehingga aku sering merajuk dan membuat Rei memberikanku lolipop dan senyum terbaiknya (yah, walau super dipaksakan). Pertemuanku dengan ayah pun berubah menjadi ajang mengenalkan calon menantu pada orang tua. Ayah sama sekali tak keberatan asalkan dia dari kepolisian! Rei-kun memang pilihan yang paling tepat dari pilihan-pilihan lain yang ada. Sayangnya, sejak aku melamarnya di depan ayah, dia bersikap menjauhiku dan menjawabku untuk masalah pekerjaan saja. Selain itu, jika aku merajuk, dia hanya menyodorkan lolipop dan pergi. Aku kesal sungguh kesal dengan tindakannya, tetapi aku tak punya pilihan lain. Kalau aku mendorongnya terus, dia malah akan semakin menjauhiku dan berujung pada pengunduran dirinya nanti. Oh, TIDAK!

Karena itu, setidaknya valentine ini, aku harus mencairkan suasana dingin diantara diriku dengan Rei-kun. Aku akan mengajaknya kencan. Aku segera mengambil ponsel dan mengiriminya pesan.

Rei-kun, kencan yuk.

Beberapa saat berlalu dan Rei-kun pun menjawab pesanku dalam dua kalimat.

Aku sedang sibuk mengerjakan laporan observasi TKP kemarin. Ajak saja Takano yang tidak banyak mengolah data.

Pacar macam apa yang menyuruh ceweknya kencan dengan cowok lain? Kurasa memang aku terlalu melebih-lebihkan kalau Rei-kun itu menyukaiku. Dia benar-benar hanya menganggapku anak kecil. Karenanya, aku mengirim satu pesan lagi.

Rei-kun jahat! Aku bosan nih.

Rei-kun menjawab tak lama kemudian.

Daripada melakukan hal yang tidak perlu, urus saja kasus yang belum terpecahkan kemarin.

Aku mendengus lagi. Aku tahu Rei-kun memang dingin. Kelembutannya pun hanya akting saja. Walaupun begitu, aku hanya memikirkannya saja, tidak bisa orang lain selain Rei-kun. Karenanya, aku mengirim satu pesan lagi.

Nanti malam aku akan ke rumah Rei-kun. Pokoknya kamu harus ada di rumah!

Setelah satu SMS itu, Rei-kun tak lagi menjawab pesanku. Mungkin benar jika aku bersikap terlalu posesif padanya, tetapi aku tak bisa hanya pasif jika aku tahu bahwa Rei-kun termasuk tipe pasif dalam hubungan percintaan. Di sini, untuk menemukan titik temu antara aku dengan Rei-kun, aku harus bersikap lebih agresif lagi.

Aku segera beranjak dari ayunan di taman yang telah kududuki sejak sejam lalu. Aku melangkah ke pertokoan yang penuh sesak, lalu membeli beberapa batang cokelat dan permen penghias serta beberapa bungkus yang menarik. Aku segera pulang ke apartemen dan mendapati Sanada tiduran di sofa sedang membaca majalah komik dengan asyik.

“Sanada, bantu aku bikin cokelat. Hari ini juga harus jadi.” pintaku keras-keras dari depan pintu.

Ia menatapku kecewa sambil menggumamkan, “Eh?”

Aku segera menghampirinya dan menariknya dari sofa. Ia jatuh ke lantai dan berdiri dengan sigap tiga detik kemudian.

“Siap!” katanya lantang.

“Oh ya ajak Takano dan Ueda juga. Biar mereka bisa mencicipi cokelatnya.” Aku pun segera mengirimi keduanya pesan dan mereka datang tiga puluh menit kemudian saat kami berdua sudah menghabiskan dua batang cokelat untuk produk gagal. Aku merasa bahwa cokelat harus dibumbui dengan cinta (artinya takaran tidaklah penting) sedangkan Sanada merasa bahwa memasak harus sesuai dengan resep yang ada (ia bahkan mengukurnya dengan sangat teliti seperti di lab). Hasilnya, cokelatku pahit dan cokelat kakakku hambar (bukannya tidak enak, tetapi ada rasa yang aneh di dalamnya).

Takano ternyata jago masak, begitu juga dengan Ueda yang sedikit feminis. Cokelat yang mereka buat seperti buatan pabrik kecil yang mengutamakan kualitas, sangat enak dan bentuknya super elegan.

“Kalau mau kau berikan pada Rei-kun sebaiknya kau kirimkan saja yang tidak terlalu manis, Mariko-san.” ujar Ueda memberi saran.

“Begitu, ya. Kupikir dia suka makanan manis karena selalu membawa lolipop kemana-mana.”

Ketiga bawahanku mendengus.

“Itu kan karena anda, Nona.” Takano tersenyum lembut seperti seorang kakak laki-laki sejati, tidak seperti Sanada yang kakak kandungku tetapi sikapnya kontras antara kekanak-kanakan dan kaku. Sampai empat belas tahun ini, aku bahkan sama sekali tak mengerti apa yang dipikirkan kakak kandungku itu. Ia orang yang aneh dan pikirannya tidak bisa ditebak sama sekali.

Aku menyikapi kata-kata Takano dengan senyuman berharap keoptimisanku akan terbayarkan malam ini. Setidaknya Rei-kun akan memberiku sebuah ciuman sebagai balasan atas cokelat valentineku. Jika tidak, ucapan terima kasih dan senyum pangerannya itu saja sudah cukup.

Di tiga jam terakhir, aku berhasil membekukan cokelat buatan terakhirku dengan sempurnya, lalu menatanya dalam boks. Ueda membantuku memberi pita dan membungkusnya dalam kantong kertas yang sama manisnya. Aku menulisnya kata-kata cinta di atas kertas dan meletakkannya di atas cokelat. Di menit-menit terakhir, Ueda menyuruhku berdandan dan memberikan pelatihan untuk mengungkapkan perasaanku lebih dalam dengan cokelat itu. Meski malu-malu, kurasa kekuatanku untuk merengek harus bisa digunakan untuk hal serius seperti ini juga.

Aku diantar ke apartemen Rei-kun oleh Takano dan Ueda yang hendak langsung pulang. Mereka menyemangatiku dan berkata suatu saat Rei-kun akan luluh pada perasaanku.

Aku mengetuk pintu apartemen Rei-kun dengan gembira. Ia terburu-buru membuka pintu. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya, tetapi ia tampak berkeringat. Saat aku melongok melihat apa yang terjadi di dalam, ada seorang gadis sedang berdiri di belakang Rei-kun.

“Dia siapa, Rei-kun?” tanyaku.

“Anu, dia itu—“ Rei-kun agak sedikit gelagapan, ia berwajah sedikit muram.

“Pacarmu?” tebakku asal.

“Anu—“ Aku tahu Rei-kun kesusahan menjawabnya, itu berarti iya?

Air mata mengalir begitu saja dari pelupuk mataku. Aku melempar cokelat valentine-ku pada Rei-kun dan spontan lari entah kemana. Aku tak berniat mendengarkan Rei-kun yang melolong memanggil-manggil namaku dengan keras. Toh, jika ia peduli padaku sekalipun, ia tak peduli karena aku pacarnya, tetapi karena aku atasannya yang amat sangat merepotkan.

Aku terhenti di sebuah taman di jalan Taka blok tiga. Di sana ada pohon-pohon sakura yang belum bersemi. Walaupun ini musim cinta, bunga sakura tidak masuk hitungan. Kurasa musim semi-ku memang tidak akan pernah datang. Sekalipun datang, jika aku sendiri yang merasakannya, sedangkan orang yang kucintai tidak, apa gunanya?

Aku duduk di bangku di bawah salah satu pohon, mendongak ke atas melihat langit musim dingin yang jernih. Banyak bintang bertaburan dan saat aku usai mengedipkan mata, sebuah meteor jatuh begitu saja dari langit dan membuatku terkesiap.

“Harus memohon sesuatu!” teriakku spontan. Aku langsung menangkupkan tangan dan berdoa.

Kumohon Rei-kun menyadari dan membalas perasaanku dengan tulus.” mintaku dalam hati.

Saat aku membuka mata, kulihat Rei-kun berdiri di depanku sambil terengah-engah. Ia pasti mencariku sambil lari-lari. Yang dilakukannya ini karena tanggung jawab menjaga atasan yang merepotkan atau karena aku pacarnya?

Aku menatapnya masih dengan air mataku yang berlinang. Aku tahu selama ini ia tak pernah serius menganggap hubungan kami, tetapi setidaknya jangan memberiku harapan dan mengkhianatiku dalam sekali waktu dong. Aku tahu aku memang bersikap agresif, tetapi setidaknya bisakah dia bersikap lebih tegas padaku kalau memang tidak suka padaku?

“Mariko-san, ini—“ Ia menyodorkan cokelat valentine-ku yang pastinya sudah amburadul dalam tempatnya.

Aku tak menjawabnya dan membuang muka. Kurasa ia sedikit kecewa dengan reaksiku. Ia pasti berpikir aku akan merajuk dan memintanya membagi-bagi lolipopnya.

“Mariko-san, saya tak mengerti kenapa anda datang ke rumah dan melemparkan cokelat ini. Saya tadi baru mau menjelaskan kalau gadis itu mantan pacar saya waktu SMA.” akunya.

Meski bukan pacarnya yang sekarang, mantan pacar sama saja pernah menjadi pacar Rei-kun. Tidak mungkin kalau Rei-kun yang tampan sama sekali tak punya pacar satu pun seumur hidupnya. Aku yang jadi pacarnya sekarang (meski dianggap anak kecil) harus lebih siap menerima kenyataan itu, meski rasanya sakit.

“Itu buatmu. Sudahlah, aku mau pulang saja.” Aku beranjak dari kursi itu dan berniat meninggalkannya, tetapi ia menahan tanganku dan memelukku. Dari luar mantelku yang tebal, masih bisa kurasakan kehangatan tubuh Rei-kun yang besar dan kekar, walaupun tidak sebesar dan sekekar Takano.

“Maaf, saya tidak bermaksud mengkhianati Mariko-san, tetapi gadis itu—“

Aku memang terlena dengan pelukan Rei-kun yang baru sekali seumur-umur itu, tetapi aku yang marah tidak boleh mengubah tindakanku tiba-tiba. Jika marah, aku harus marah dulu. Aku mendorongnya dan berteriak padanya.

“Rei-kun jahat. Nggak pernah nganggap aku wanita. Padahal, walaupun aku masih 14 tahun, aku sudah dewasa tahu! Aku ini wanita karir, sudah punya penghasilan sendiri. Empat tahun lagi aku juga sudah boleh menikah, tapi Rei-kun nggak pernah nganggp aku pacar. Rei-kun jahat.”

Saat aku tak sadar, Rei-ku memberiku kecupan penuh kejutan di bibirku lalu memandangku lurus.

“Siapa bilang aku nggak menganggap Mariko-san seorang cewek? Mariko-san tentu sudah dewasa, walaupun secara mental sepertinya belum. Aku hanya takut kalau lebih dari ini, aku bisa dianggap pedofil. Aku kan polisi. Mana bisa polisi yang menangkap pedofil adalah pedofil sendiri?” Ia tersenyum lembut, membuat jantungku rasanya mau copot. Dag-dig-dig tidak karuan.

“Kau nggak akan dianggap pedofil. Kau kan tunanganku. Kau juga boleh menciumku, aku sama sekali nggak keberatan daripada kau mencium gadis selain aku.” ujarku setengah merajuk.

Rei-kun masih tersenyum.

“Aku akan melakukannya lagi saat kau sudah lebih dari 17 tahun.” Ia membelai rambutku yang dingin lalu memelukku lagi. Rasanya begitu hangat hingga aku bisa meleleh kapan saja.

“Kelamaan!” Aku memukul punggungnya dengan lembut, tetapi penuh kasih.

Kurasa impianku berubah. Saat meteor jatuh lagi di langit yang bersih pada tanggal yang sama, aku akan meminta sebuah impian baru, yaitu menikah dengan Rei-kun suatu hari nanti.[ ]

*Yang belum baca Mariko-sama’s Rule (tema OH YEAH), baca dulu ya untuk memahami cerita ini lebih lanjut 😀

Advertisements

2 responses to “[cerpen] Mariko-sama’s Valentine Chocolate #YUI17Melodies

  1. iya nih, sudah suka nulis dan baca sejak kecil~ aku sekarang lagi ngerjain tetralogi Innocent Ion sama The Cloud Series. Genrenya Thriller sama Fantasi. Kalau mau baca sinopsis buku satunya cek di my novel. Sayangnya pihak penerbitnya belum kasih-kasih kabar~ Yah, ditunggu saja 😀

  2. Kamu suka cerita2 kepolisian gitu ya? Wkwk. Gaya nulisnya udh ngalir, pasti udh sering nulis dah suka baca.. 😀 Good work! Coba2 aja bikin novel dan kirim ke penerbit. :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s