[cerpen] Life Rotation #YUI17Melodies

Penulis: Hazuno Cherry

Tema: Merry Go Round – YUI

Keyword: pelangi, berputar, cermin, gaun, cahaya

 

Pertemuan kami bagaikan sebuah keajaiban, tetapi kenapa takdir memisahkan kami dengan cara yang tragis?

 

“Finn, di hari jadi kita yang kelima ini, bagaimana kalau kita putus saja?”  katanya seraya menundukkan wajah dengan masam.

Aku bingung, tetapi tidak melakukan apapun. Aku hanya terdiam, berharap ada humor yang dilontarkannya setelah ini, tetapi ia tetap membisu hingga kesunyian di antara kami berdua terasa begitu mencekam, begitu menyakitkan.

“Kenapa?” balasku setelah sekian detik terbuang percuma.

Ia menatapku dengan pandangan iba, tetapi aku masih bisa merasakan rasa sayang di ujung matanya yang indah. Ia masih mencintaiku. Ia masih ingin bersamaku. Lantas kenapa ia melontarkan kata-kata yang begitu menyakitkan itu?

“Aku dijodohkan dan itu adalah sebuah wasiat. Aku tidak bisa bersamamu karena aku tidak bisa menentang wasiat itu.”

Ini pasti sebuah lelucon.

“Kau bercanda kan? Kau tidak sungguh-sungguh kan?” Aku meraih tangannya dan mengguncang-guncangkan tubuhnya. Ia tidak bereaksi dan hanya membuang mukanya lagi-lagi. Ujung bibirnya yang terkatup tak memberiku jawaban sama sekali. Aku tak mengerti maksudnya mempermainku seperti ini.

Dalam genggamanku, ia menggeleng lemah.

“Maaf Finn, aku sudah mengecewakanmu.”  Ia mendorongku perlahan. Air matanya mengalir bagaikan butiran berlian berharga yang akan segera menghilang dari hadapanku. Ia lari sekencang-kencangnya, meninggalkanku di tempat jadian kami 5 tahun lalu, di sebuah taman bermain, di depan sebuah komedi putar yang terus berputar hingga tak kutahu kapan komedi putar itu akan berhenti seketika. Kakiku ingin berlari mengejarnya, tetapi tak mau menurut. Kakiku tetap berpijak dengan kokoh di atas tanah tanpa bergerak sedikit pun. Dari sana, aku bisa melihat sosok kekasihku yang semakin kecil dan menghilang di kerumunan. Itu adalah pertemuan terakhir kami, sebagai sepasang kekasih, tanggal 13 Desember tahun ini.

Lima tahun lalu, aku diputuskan oleh pacarku setelah kencan terakhir kami di tempat yang sama. Pada saat itu, kupikir hidupku akan segera berakhir jika satu-satunya orang yang kusayangi mencampakkan diriku dengan alasan tak mau berhubungan jarak jauh. Jika kautahu rasanya saat itu, hatiku menjadi kosong begitu saja. Sama seperti sekarang, aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Mengejarnya? Kakiku tak mau bergerak. Memanggil namanya? Suaraku tak mau keluar. Aku yang sekarang dengan aku lima tahun lalu sama sekali tak berbeda. Aku yang pengecut ini sama sekali tak berubah.

Aku mengalihkan pandanganku pada komedi putar yang terus berputar dengan suara-suara menyegarkannya. Aku tak tahu itu lagi apa, tetapi perasaan sedihku tetap tidak berubah, meskipun lagunya seperti lulabi yang bisa saja menidurkanku sambil berdiri. Aku menghampirinya dan menaiki salah satu kuda poni berwarna putih yang naik turun berulang kali sembari komedi putar itu bergerak dengan kecepatan konstan.

Aku berhalusinasi. Ketika kudo poni warna hitam di depanku menampakkan sosoknya lima tahun lalu, ia begitu senang seolah ia anak kecil yang baru pertama kali naik komedi putar. Ia mengenakan gaun putih dengan blazer merah cerah. Ia tersenyum saat aku menyapanya.

“Kau suka naik komedi putar?” tanyaku kala itu.

Ia menjawab dengan senyum terbaiknya. “Aku baru kali ini naik, tetapi rasanya begitu menyenangkan. Andai aku boleh keluar rumah, aku pasti akan sering main ke sini.”

Aku mengulurkan tangan. “Siapa namamu?”

“Namaku Jessica. Jessica Farmfield. Kamu?”

“Finlandia Borres. Kau bisa memanggilku Finn.”

Dari percakapan singkat yang tak berarti itu, aku tahu bahwa aku telah memiliki perasaan yang berbeda padanya. Aku telah jatuh cinta pada warna matanya yang seperti spektrum pelangi yang begitu indah, juga pada pribadinya yang begitu cerah dan hangat seperti cahaya di pagi hari. Ia tentu saja cantik, tetapi apa yang dimilikinya, seluruhnya, bagiku itu sudah lebih dari sekedar cantik. Dia adalah bidadari yang naik poni hitam di sebuah komedi putar yang sama sepertiku.

Sebulan setelahnya, kami dipertemukan kembali di tempat yang sama. Aku hanya ingin main, dan ia pun begitu. Aku tak mengerti kenapa orang tuanya begitu keras padanya hingga ia harus diam-diam pergi dari rumah hanya untuk ke taman bermain, tetapi semua orang tua pasti punya alasan kenapa mereka mendidik anaknya dengan cara tertentu.

“Kau yang waktu itu?” aku menyapanya dengan sedikit keraguan. Aku yakin itu pasti Jessica, gadis itu, tetapi untuk menanggulangi kesalahpahaman, lebih baik aku memang bersikap sedikit ragu.

“Ah, kamu Finn?” Ia menepuk bahuku keras-keras. Kali ini, bajunya yang sudah lebih tipis karena musim panas yang mulai menyengat membuatnya menjadi pribadi yang lebih segar. Dengan warna  kaos oranye dan rok pendek jeans serta sepasang boot yang manis, ia terlihat begitu siap untuk bermain. Jika sebulan sebelumnya ia sungguh terlihat seperti seorang putri yang naik kuda poni hitam, kali ini ia lebih terlihat seperti anak SMA yang bebas bermain di musim panas yang indah. Walaupun kabur dari rumah seharian, ia pasti tak menyesali pilihannya itu.

“Karena aku sendiri dan kamu pun sendiri, bagaimana kalau kita bermain berdua?” tawarnya.

Bagaimana mungkin aku menjawab tidak pada gadis yang telah membuatku terpikat sejak pertama bertemu? Kami pun menghabiskan waktu seharian yang berharga seperti sepasang kekasih. Makan crepes, naik roller coster, ke rumah hantu, naik ferris wheel, makan burger, dan yang terakhir naik komedi putar di malam hari. Bagiku, hari itu adalah hari terindah yang pernah kurasakan dalam hidupku.

Kami pun bertukar telepon setelah hari kedua pertemuan kami. Mungkin pada awalnya kami menganggap bahwa pertemuan pertama kami adalah sebuah kebetulan biasa, tetapi pertemuan kedua kami pastilah sebuah takdir. Benang merah yang mengikat di antara kami pasti mulai bertali temali sedikit demi sedikit. Aku merasa yakin entah kenapa.

Di bulan desember, tanggal 13, aku pun menyatakan perasaanku padanya di tempat pertama kami bertemu. Di depan komedi putar, aku membawakannya buket bunga dan menyatakan perasaanku. Ia tampak terkejut, tetapi ia menerimaku dan memelukku. Saat itu, meski hawa dingin begitu menusuk dan salju berjatuhan sedikit demi sedikit, perasaan kami berdua menghangat bagaikan berada di dekat sebuah api unggun yang apinya menyala terang dan meliuk-liuk.

Lima tahun yang kami lalui bagaikan sebuah keajaiban. Aku tahu orang tuanya takkan menyetujui hubungan kami. Keluarganya yang kaya raya takkan memperhitungkanku yang berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Meski begitu, hanya dengan kebersamaan kami yang dari tahun ke tahun semakin menguat, kuharap suatu saat nanti orang tua Jessica akan mengerti dan menyetujui hubungan kami. Kesabaran lah yang kami berdua butuhkan.

Aku kembali ke dunia nyata dan menghilangkan memori masa lalu yang indah itu. Aku kembali menatap kuda poni hitam di depanku yang kosong—tentu saja. Jessica tak ada di sana, dan takkan ada lagi di sana. Ia sudah menyerah dengan hubungan kami dan berniat mengikuti aturan keluarganya. Meski kesal, aku harus menerimanya. Mungkin hubunganku dengannya sama saja seperti hubunganku dengan teman sekelasku di SMP lima tahun lalu. Karena ia tak mau berhubungan jarak jauh, ia memutuskanku. Pada akhirnya, tidak ada yang benar-benar mencintaiku sebagai sebuah prioritas. Di sini aku hanyalah sebuah minoritas dari suatu yang berbau mayoritas dalam hidup kedua gadis itu. Jika siklus kehidupan ini tetap demikian, apa lima tahun mendatang hidupku juga akan dicampakkan seperti ini? Dicampakkan di hari yang sama dan tempat yang sama. Aku jadi memahami bahwasanya komedi putar yang tak pernah berhenti berputar ini terusa saja bersimpati padaku.

“Kau bersimpati padaku? Padahal aku hanya ingin dicintai.” gumamku sendiri di tengah sorak girang anak-anak yang naik didampingi orang tua mereka yang penuh kasih.

Aku memeluk leher poni putih itu erat-erat dan sebulir air mataku mengalir dari pelupuk mataku.

“Jika hidup ini terus berputar, aku hanya perlu merefleksikan diriku sendiri di depan sebuah cermin. Mungkin pada saat itu aku bisa menemukan kesalahanku sendiri dan memperbaikinya.”

Itu bukanlah hal mudah, tetapi satu hal yang pasti adalah bahwa komedi putar ini akan selalu menjadi teman juga saksi yang akan selalu mengiringi perputaran kehidupanku yang penuh warna.[ ]

Advertisements

4 responses to “[cerpen] Life Rotation #YUI17Melodies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s