[cerpen] Bakat #YUI17Melodies (Last Entry)

Penulis: Hazuno Cherry

Tema: Fight – YUI

Keyword: mercusuar, cahaya, semangat, khayalan, semesta

Apa sebenarnya yang kukejar dalam hidup? Sudah sejak kecil aku mencoba meraihmimpiku sekuat tenagaku, tetapi hasilnya zero di akhir. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Saat ini, ketika aku sudah merasa kehilangan segalanya, aku adalah pribadi yang kosong melompong. Aku tak punya apapun lagi. Aku sudah kalah dalam hidup ini.

Aku berdiri di depan rel kereta api stasiun bawah tanah. Mencoba mendongak melihat ke rel hitam yang sangat tinggi di bawah. Jika aku jatuh dan tak ada yang menolongku kembali ke atas, maka riwayatku bisa tamat saat itu juga. Meski begitu, entah kenapa khayalanku hanya tertuju pada rel yang lurus dan kokoh itu. Sepertinya tempat itu tidak membuat kita kesakitan sebelum mati, bukannya begitu? Jika aku tertabrak kereta dan mati seketika, aku takkan merasa kesakitan terlebih dahulu. Tubuhku akan hancur seketika, dan takkan ada yang tersisa dari keberadaanku yang sendiri ini.

Ingatanku kembali ke peristiwa beberapa tahun lalu ketika aku duduk di bangku SMP. Saat guru menanyakan karirku, aku berharap bahwa suatu saat nanti aku akan menjadi salah satu personil grup idola yang penuh motivasi. Setelah mengungkapkan keinginan itu, dengan semangat membara, siang malam aku berlatih menyanyi dan menari. Aku pun mengikuti audisi berulang kali seolah aku percaya betul bahwa kegagalan adalah sebuah awal dari keberhasilan.

Beberapa tahun kemudian, di audisiku yang kesembilan, hasil latihanku membuahkan hasil. Aku berhasil lulus untuk training di sebuah lebel rekaman ternama. Waktu itu aku merasa sungguh di atas angin. Bagiku, tak ada yang lebih indah dari itu. Aku berlatih lebih giat dari siapapun. Aku berharap segera didebutkan sebagai salah satu anggota dari grup idola. Dua tahun setelahnya, produser menawariku penawaran itu. Aku begitu senang tak terperi. Semangatku untuk berada di atas panggung lebih dari siapapun, lebih dari apapun.

Debutku dimulai setengah tahun berikutnya. Aku menjadi salah seorang anggota dari grup idola berjumlah 5 orang. Kami melakukan debut dengan single yang cukup menjadi hits kala itu. Seperti cahaya panggung yang menerangiku dengan penuh gemerlap di atas panggung,  hidupku kala itu begitu bahagia, begitu bergairah. Aku memiliki cita-cita dan aku tengah berada di jalan yang terang untuk meraihnya. Tuhan memberkatiku dengan begitu banyak kebahagiaannya yang tak bisa kuekspresikan dengan kata-kata.

Dalam dua tahun saja, grup idola kami telah merajai 10 besar oricon chart baik itu single maupun album. Kami menjadi salah satu grup idola paling terkenal di Jepang. Kami berlima, aku, Ami, Rina, Kagura, dan Fu-chan semakin dekat dengan impian kami berlima untuk menjadi grup idola nomor satu di Jepang dan go internasional . Andai saja mimpi-mimpiku dan grup idola kami bisa tercapai segemilang itu, tentu aku takkan punya keinginan bunuh diri.

Tepat tiga setengah tahun lalu, aku mencoba mengkhianati teman-temanku. Aku dibujuk untuk berkarir solo karena aku lebih popular dari keempat anggota lainnya. Tadinya, aku yang hanya berkeinginan untuk menjadi anggota dari grup idola populer mulai mengubah cara pandangku. Dari segi finansial, dari segi kepopuleran, juga dukungan dari fans, penyanyi solo punya hal itu lebih dari penyanyi suatu grup idola. Aku pun mulai mendekati produserku. Tadinya ia menolak, tetapi aku memaksanya bahkan dengan cara menjual diri sendiri. Hatiku sudah termakan setan. Untuk mendapatkan puncak tertinggi di dunia entertainment, aku berpikir untuk melakukan apapun, bagaimana pun caranya.

Setelah debut soloku diputuskan dan aku mengumumkan hal itu pada teman-temanku, mereka tampak syok. Ami menangis, sedangkan Fu-chan menarik kerahku dan berniat memukulku kalau saja Kagura tak menghentikannya.

“Pengkhianat!” kecam Rina tanpa ekspresi. Aku mengerti betul, jika dirinya berkata demikian, artinya ia sangat marah sampai merasa dendam padaku. Ia bukan orang yang pemaaf.

“Aku memang pengkhianat, tetapi aku akan bersinar lebih dari siapapun.”

“Manusia tamak.” lanjut Rina dengan suara seraknya yang diberatkan.

Aku memang tamak, tetapi mimpi takkan bisa diraih jika kita tak punya ambisi. Bermimpi tinggi dan lakukan segala cara untuk meraihnya, itulah prinsip hidupku. Meski berbeda dengan visi hidupku dulu, aku yakin Tuhan masih mencintaiku. Benar, jika Tuhan masih mencintaiku—

Pengumuman debut soloku membawa banyak dampak padaku. Begitu banyak fans yang mengecamku. Aku dikatai pengkhianat dan lain sebagainya. Meski mereka fans teman-temanku di grup idola, beberapa fansku tampaknya terpengaruh oleh mereka. Karenanya, CD debutku berada di posisi yang tidak menguntungkan. Bahkan setelah keempat temanku merilis single baru mereka, mereka kembali merajai oricon chart dengan menyingkirkan semua pesaingnya termasuk aku dalam satu minggu saja. Mungkin aku dicibir atau bahkan dikasihani, tetapi perjalanku sebagai penyanyi solo baru ditapak sekarang.

Kupikir usahaku yang maksimal akan membuahkan hasil yang sesuai, aku tak pernah berpikir untuk gagal, tetapi kenyataan berkata lain. Tersebarnya fotoku bersama seorang staf televisi di depan sebuah hotel menyebar luas di internet hingga menyebabkan skandal yang luar biasa hebat. Meski aku berusaha menjelaskan bahwa foto itu hanya kesalahpahaman semata, tak ada yang mempercayaiku, tidak pula produserku. Ia berhenti memproduseriku dan menendangku keluar dari lebel yang telah membesarkan namaku. Setelahnya, aku pun mulai mencari lebel yang lebih kecil. Aku berhasil bergabung di suatu lebel, tetapi CD single-ku sama sekali tak menjual, bahkan tidak sepuluh persen pun dari CD single debutku. Aku mulai kehilangan pemasukan apalagi tak ada yang mengundangku ke acara musik apapun bahkan meski hanya untuk promo single. Blogku mulai menjadi tempat kecaman-kecaman yang membuatku sesak hari demi hari. Fansku menghilang satu persatu. Lambat laun, cahayaku mulai meredup seperti cahaya mercusuar yang makin mengecil seiring dengan semakin jauhnya kapal dari bibir pantai. Aku mulai menghilang dari dunia entertainment yang begitu kucintai sedikit demi sedikit sampai tak bersisa.

Hingga tiga bulan lalu, tak ada lagi yang membahas tentangku. Seolah namaku telah lama tertelan bumi. Tak ada yang mungkin sibuk-sibuk mengingatku bahkan mencari keberadaanku. Sejak tiga setengah tahun lalu, aku sudah gagal sebagai seorang idola. Tidak—bahkan aku telah gagal sebagai seorang manusia.

Beberapa kali aku mendongak melihat papan iklan besar yang menujukkan cover single terbaru grup idola yang telah kutinggalkan. Hingga tiga setengah tahun telah berlalu seperti sebuah kedipan mata, mereka masih tetap solid dan berjaya di hati fans meski tanpa diriku. Aku tahu aku adalah wajah dari grup idola itu tiga setengah tahun lalu, tetapi sekarang bahkan jarang ada orang yang mengenaliku lagi. Semesta mulai melupakan perjuanganku ke puncak sedikit demi sedikit. Usaha kerasku untuk menjadi seorang idola yang penuh motivasi dulu seperti sebuah sampah yang tak berarti bagi dunia entertainment saat ini.

Waktu yang berjalan begitu cepat hingga membuat hatiku terasa semakin hampa sedikit demi sedikit. Aku pun terdampar dengan pikiran paling negatifku sekalipun. Aku akan mengakhiri duniaku yang penuh kekosongan ini. Aku yang hanya punya mimpi itu, mengobankan segalanya untuk meraihnya. Namun, pada akhirnya aku malah terdampar di tumpukan sampah siap angkut. Jika ini suatu hukuman dari Tuhan karena aku bersikap jahat pada teman-teman juga orang yang telah mendukungku selama ini, apa Ia akan memberiku kehampaan ini seumur hidupku?

Jeez jeez jeez jeez jeez…

Kereta telah datang. Masih agak jauh tetapi ini waktu yang tepat untuk melompat.

Ganbare ganbare inochi moyashite
Tsuzuku genjitsu ikiteyuku
Ganbare ganbare kagiriaru hibi ni…
Hana wo sakaseru

Kibou no saki ni aru akogare ni te wo nobaseba
Ashita datte te tesaguri mitsukeru yo…

Speaker di belakangku telah memperdengarkan lagu itu sejak semenit lalu, tetapi aku terlalu terfokus pada pikiranku sendiri. Aku tak memperhatikan apa pun.

Lakukan yang terbaik, lakukan yang terbaik

Refrain itu terus terngingat dalam kepalaku. Lagi dan lagi, bahkan ketika lagu mulai menghilang perlahan.

Kereta telah berhenti tepat di depanku. Pintu terbuka dan para penumpang malam mulai berhambur masuk. Aku terdiam di tempat berharap mendengar kata-kata itu lagi.

Lakukan yang terbaik, lakukan yang terbaik

Apa aku tidak melakukan yang terbaik? Apa aku kurang berjuang selama ini?

Air mata mengalir begitu saja seiring dengan ditutupnya kereta shinkansen itu. Kereta itu berangkat beberapa detik kemudian, meninggalkanku yang masih terpaku terdiam di peron yang sunyi dan dingin.

Kenapa penyanyi lagu itu terus mengucapkannya? Lakukan yang terbaik, lakukan yang terbaik—sampai telingaku mendengungkannya lagi dan lagi. Lakukan yang terbaik, lakukan yang terbaik. Apa aku belum melakukan yang terbaik selama ini? Apa itu hanya alasan saja karena aku tak punya sesuatu bernama bakat untuk bisa bertahan di dunia ini? Yang kudapatkan selama ini hanyalah keberuntungan yang dibayarkan Tuhan secara beruntun karena usahaku yang tak kenal lelah. Namun, aku mengkhianati kepercayaan Tuhan dengan mencari jalan pintas dan mengkhianati orang-orang yang telah mempercayaiku. Aku manusia paling buruk rupa.

Seorang petugas stasiun menghampiriku dengan khawatir.

“Nona, kau baik-baik saja?” tanyanya khawatir.

“Pak, bisakah anda beritahu saya apa bakat itu? Apa saya memerlukannya untuk terus hidup di dunia ini?”

Meski merasa terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba saja kulontarkan, petugas itu memberiku seraut senyuman.

“Bakat itu adalah usaha keras 100% tanpa mengenal kata menyerah. Saat Nona bermimpi tinggi dengan usaha 100% dan tak kenal lelah dalam mengejar cita-cita, maka Nona adalah orang yang paling berbakat yang pernah ada.”

“Hiks, hiks, hiks, apa orang sepertiku pun punya bakat?”

“Tentu, bakat dengan usaha 100% dan tekad pantang menyerah akan membawa anda pada mimpi yang ingin anda raih.”

“Tapi aku sudah gagal.”

“Kalau begitu, restart saja. Galilah bakat Nona dari sekarang dengan berusaha 100%. Saya yakin Nona akan menemukan sesuatu yang indah suatu saat nanti. Kegagalan ada awal dari sebuah keberhasilan. Apa Nona ingat istilah itu? Jangan menyerah saat ini.”

Aku tersadar. Aku telah melupakannya. Kupikir aku telah kehilangan segalanya. Sebenarnya, itu sama sekali tak benar. Aku masih memiliki waktu yang Tuhan berikan. Aku masih hidup. Jalanku belum berakhir di sini. Mungkin ini kegagalan terbesar yang pernah kualami sepanjang hidupku, tetapi aku yakin awan mendung akan segera menghilag dan langit cerah tinggi yang kudamba akan segera tampak, dengan syarat usaha keras 100% dan tekad pantang menyerah. [ ]

Advertisements

2 responses to “[cerpen] Bakat #YUI17Melodies (Last Entry)

  1. I enjoyed this. It has a dark underside but also a strong message in it. Almost spiritual, certainly philosophical

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s